Kamis, 17 Mei 2012

Gampoeng Turki Itu Bernama Bitai


















Kerajaan Rum berhasil takluk, Kekaisaran Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium (Bizantin, Byzantin, Byzantine) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan Kekaisaran Romawi pada masa Zaman Pertengahan, berlokasi di sekitar ibukotanya di Konstantinopel atau kekaisaran kristen yang berhasil di taklukan oleh kekaisaran Islam Kalifah Turki Usmani. Nama Kota Konstantinopel akhirnya diganti menjadi Istambul pasca kemenangan pasukan Islam atas pasukan Kristen di benua Eropa.

Semula para ulama Turki bertujuan untuk mengajarkan agama Islam di Aceh dan pasantren, Perkembangan Islam di Bitai selanjutnya sangat maju karena banyak orang luar Aceh yang belajar untuk memperdalam agama Islam.

Bagi yang belajar di Aceh mengembangkan lagi di negaranya masing-masing. Maka semakin majulah perkembangan Islam masa itu. Raja-raja yang menganut agama Budha di Aceh akhirnya masuk Islam karena tidak diperbolehkan kepala Negara Budha pada saat itu.

Disamping mengembangkan agama Islam, para kepala Negara itu juga mengadakan kerja sama pada bidang ekonomi dan perdagangan serta menjalin hubungan yang baik pada masalah ketahanan Negara.

Turki Membantu Aceh memberikan perlengkapan perang. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Salahuddin yaitu Sultan Aceh kedua yang mangkat pada tahun 1548 M, Beliau hanya memerintah 28 tahun tiga bulan. Masa pemerintahannya mempunyai agenda meningkatkan pendidikan dan hubungan kerja sama dengan Negara-negara lain seperti Turki, tanah melayu, Pakistan dan Arab Saudi.

Raja dan keluarganya dari Turki dan masyarakat yang berada di negeri Kedah/melayu kini Malaysia umumnya beragama Islam dan akhirnya orang Turki tersebut pindah dan menikah dengan orang Aceh yang tinggal di Bitai. Pada saat wafatnya Raja/Sultan Salahuddin, orang Turki yang merupakan sahabatnya, memberikan wasiat bahwa pada saat meninggal dunia mereka minta dimakamkan saling berdekatan yaitu di Komplek Situs Makan Tuanku Di Bitai, Banda Aceh.

Jumlah makam kuno di sekeliling makam Sultan Salahuddin secara keseluruhan lebih kurang 25 makam makam dari batu cadas berjumlah 7 makam serta makam dari batu sungai berjumlah 18 makam. Secara keseluruhan batu nisannya berbentuk segi delapan dan hiasannya bertuliskan kaligrafi dengan bahasa arab. Segi delapan mewujudkan delapan sahabat dari Aceh, Turki dan Saudi Arabia. Pada bagian bawah nisan terdapat pola luas tumpal, puncak nisan cembung diatasnya terdapat lingkaran sisi delapan.

Orang Turki tersebut yang pertama kali datang di Bitai, Banda Aceh itu bernama Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi atau lebih terkenal dengan nama Tengku Syieh Tuan Di Bitai. Nama Bitai diambil untuk mengenang asal orang Turki tersebut dari Palestina atau Bayt Al-Maqdis nama lain dari Yerussalem tempat Masjid Al-Aqsa berada yang kini di duduki oleh zionis Israel.

Keturunan Tengku Di Bitai juga di makamkan di sekeliling makam Sultan Salahuddin dalam situs tanah wakaf dan terdapat mesjid kuno yang terbuat dari kayu dan sebagian di semen dindingnya. Pasca Tsunami masjid kuno tersebut mengalami kerusakan parah dan di bangun suatu masjid baru dengan motif ornamen Timur Tengah bergaya negara Turki dan ada juga sebuah museum tentang sejarah kedatangan Turki di Bitai Banda Aceh.

Komplek Makam Tengku Di Bitai dan Sultan Salahuddin ini sendiri terletak di tengah perkampungan desa Bitai dengan luas area 500 meter persegi. Desa Bitai berbarengan dengan emperoom yang sekarang dijadikan satu kawasan perkampungan Turki. Emperoom berasal dari kata emparium atau kerajaan/kekaisaran dahulunya, yang terkenal dengan emparium Romawi.

Anak laki-laki pertama dari keturunan Tengku Di Bitai ada 9 orang yang dimakamkan dalam makam khusus berbentuk kotak persegi empat, hanya satu yang dimakamkan di luar desa Bitai yakni di Lampoh Daya yang bernama Faqih Sri Raja Faqih bin Abdullah Tamim Ghazi, tetapi masih berbatasan langsung dengan desa Bitai hanya satu kilometer dari desa Bitai.

0 komentar

Posting Komentar